Dari FOMO ke FOBO: Ketakutan Baru Generasi Digital di Era Kecerdasan Buatan

Oleh: Siti Intan Nurfadilah

Mahasiswa Teknik Informatika

Pendahuluan

Beberapa tahun lalu, istilah Fear of Missing Out (FOMO) cukup sering dibicarakan, terutama di kalangan anak muda. FOMO menggambarkan perasaan takut tertinggal dari tren, informasi, atau pengalaman yang sedang dinikmati orang lain. Media sosial membuat perasaan ini semakin mudah muncul. Melihat teman berlibur, mengikuti tren terbaru, atau mengetahui pencapaian orang lain terkadang membuat seseorang merasa hidupnya tidak berkembang secepat orang-orang di sekitarnya.

Namun, seiring perkembangan teknologi, muncul kekhawatiran lain yang tidak kalah menarik untuk dibahas. Kini, sebagian orang bukan hanya takut tertinggal dari tren, tetapi juga takut tertinggal dari kemampuan teknologi. Kekhawatiran ini dikenal sebagai Fear of Becoming Obsolete (FOBO), yaitu ketakutan bahwa kemampuan, pengetahuan, atau pekerjaan yang dimiliki tidak lagi relevan karena perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

Perubahan ini terasa semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari. AI kini dapat membantu menulis, membuat desain, menyusun kode program, menerjemahkan bahasa, hingga menganalisis data. Berbagai pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan waktu cukup lama dapat diselesaikan dengan lebih cepat. Kemudahan tersebut tentu membawa manfaat, tetapi sekaligus menimbulkan pertanyaan: jika teknologi terus berkembang, apakah kemampuan yang kita pelajari hari ini masih akan dibutuhkan di masa depan?

Ketika Teknologi Menjadi Sumber Kecemasan Baru

FOMO dan FOBO memiliki perbedaan yang cukup mendasar. FOMO berkaitan dengan ketakutan tertinggal dari kehidupan sosial, sedangkan FOBO lebih dekat dengan kekhawatiran mengenai kemampuan diri dan masa depan. Seseorang mungkin merasa cemas ketika melihat orang lain lebih mahir menggunakan AI, lebih cepat menyelesaikan pekerjaan, atau memiliki keterampilan yang dianggap lebih dibutuhkan.

Perasaan tersebut cukup mudah dipahami, terutama oleh mahasiswa dan pekerja muda yang sedang mempersiapkan masa depan. Mahasiswa, misalnya, tidak hanya dituntut memahami materi perkuliahan, tetapi juga perlu memikirkan keterampilan apa yang akan berguna ketika memasuki dunia kerja. Di tengah perkembangan AI, muncul kekhawatiran bahwa ilmu yang sedang dipelajari bisa saja kalah cepat dibandingkan perubahan teknologi.

Kekhawatiran ini bukan sepenuhnya tanpa alasan. Sejumlah perusahaan mulai memanfaatkan AI untuk membantu pekerjaan administratif, pelayanan pelanggan, pengolahan data, dan berbagai tugas lainnya. Beberapa pekerjaan pun mengalami perubahan karena sebagian prosesnya dapat dilakukan secara otomatis. Akibatnya, kemampuan yang dibutuhkan perusahaan ikut berkembang.

Meski begitu, perubahan tersebut tidak berarti semua pekerjaan manusia akan hilang. Dalam banyak situasi, AI hanya mengambil alih sebagian tugas, sementara manusia tetap dibutuhkan untuk menentukan tujuan, memeriksa hasil, mengambil keputusan, dan bertanggung jawab atas pekerjaan yang dilakukan. Tantangannya adalah bagaimana seseorang mampu menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut tanpa terus-menerus merasa tertinggal.

Perubahan serupa juga terlihat dalam dunia pendidikan. Banyak mahasiswa menggunakan AI untuk mencari penjelasan tambahan, merangkum materi, menyusun kerangka tulisan, atau memahami kode program. Jika digunakan dengan tepat, teknologi ini dapat membantu proses belajar menjadi lebih praktis.

Namun, ada hal yang perlu diperhatikan. Kemudahan memperoleh jawaban terkadang membuat seseorang tergoda untuk langsung menggunakannya tanpa memahami proses di balik jawaban tersebut. Tugas mungkin selesai lebih cepat, tetapi belum tentu pengetahuan yang diperoleh benar-benar bertambah.

Di sinilah persoalannya. AI bisa memberikan jawaban dalam hitungan detik, tetapi pengguna tetap perlu memastikan apakah jawaban tersebut benar, masuk akal, dan sesuai dengan kebutuhan. Tanpa kebiasaan memeriksa informasi, seseorang dapat menjadi terlalu bergantung pada teknologi. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini berisiko menghambat kemampuan berpikir mandiri.

Bukan Sekadar Mengikuti Perkembangan Teknologi

Menurut saya, FOBO bukan hanya persoalan takut kehilangan pekerjaan atau kalah bersaing dengan orang lain. Ada kekhawatiran yang lebih mendasar, yaitu perasaan bahwa diri sendiri tidak lagi cukup mampu menghadapi perubahan. Ketika teknologi berkembang begitu cepat, seseorang bisa merasa harus terus belajar hal baru agar tidak tertinggal.

Padahal, mengikuti setiap perkembangan teknologi bukanlah perkara mudah. AI terus diperbarui, fitur baru bermunculan, dan cara kerja yang sebelumnya dianggap efektif bisa berubah dalam waktu singkat. Jika setiap perubahan dianggap sebagai sesuatu yang wajib dikuasai, seseorang justru bisa merasa kelelahan dan kehilangan arah.

Menurut saya, yang lebih penting bukanlah menguasai semua teknologi yang sedang populer, melainkan memahami teknologi mana yang benar-benar bermanfaat dan bagaimana menggunakannya dengan tepat. Tidak semua orang harus menjadi ahli AI. Namun, setiap orang perlu memiliki kemauan untuk belajar dan menyesuaikan diri dengan perubahan yang berkaitan dengan bidangnya.

Kita juga perlu mengubah cara pandang terhadap AI. Teknologi ini tidak harus selalu diposisikan sebagai pesaing manusia. Dalam banyak hal, AI justru dapat menjadi alat bantu yang membuat pekerjaan lebih efisien. Seseorang yang mampu memanfaatkan AI sekaligus memahami bidang yang dikerjakannya memiliki peluang untuk menghasilkan pekerjaan yang lebih baik.

Sebagai contoh, mahasiswa informatika dapat menggunakan AI untuk membantu memahami kesalahan dalam kode program. Akan tetapi, mahasiswa tersebut tetap perlu mengetahui alasan kesalahan itu terjadi dan bagaimana memperbaikinya. Jika hanya menyalin kode yang diberikan AI, ia mungkin memperoleh program yang berjalan, tetapi belum tentu memahami cara kerja program tersebut. Sebaliknya, jika AI digunakan untuk membantu proses belajar, teknologi itu justru dapat menjadi sarana untuk memperdalam pemahaman.

Hal yang sama berlaku bagi kemampuan berpikir kritis. AI dapat menyajikan berbagai informasi dan sudut pandang, tetapi manusia tetap perlu menilai kualitasnya. Kita perlu berani mempertanyakan jawaban yang meragukan, membandingkan informasi dari sumber lain, dan mempertimbangkan dampak dari keputusan yang diambil. Kemampuan semacam ini semakin penting ketika informasi dapat diperoleh dengan sangat mudah.

Selain itu, ada kemampuan manusia yang tidak cukup dinilai dari seberapa cepat sebuah tugas diselesaikan. Kreativitas, empati, komunikasi, kepemimpinan, dan pemahaman terhadap situasi sosial tetap memiliki peran penting dalam kehidupan. Teknologi dapat membantu seseorang menyusun gagasan atau menganalisis persoalan, tetapi memahami perasaan orang lain dan membangun kepercayaan membutuhkan lebih dari sekadar menghasilkan jawaban yang tepat.

Karena itu, saya melihat FOBO sebagai pengingat untuk terus berkembang, bukan alasan untuk merasa rendah diri. Kita tidak harus selalu menjadi orang yang paling cepat menguasai teknologi. Yang perlu dijaga adalah kemauan untuk belajar, keberanian mencoba hal baru, dan kemampuan menilai kapan teknologi perlu digunakan serta kapan manusia harus mengambil alih.

Penutup

Perkembangan AI memang mengubah cara manusia belajar, bekerja, dan menjalani kehidupan sehari-hari. Di tengah perubahan tersebut, FOBO muncul sebagai bentuk kekhawatiran baru, terutama bagi mereka yang merasa kemampuan dan pengetahuannya mungkin tidak lagi sesuai dengan kebutuhan masa depan.

Namun, rasa takut tertinggal tidak seharusnya membuat kita terus-menerus membandingkan diri dengan teknologi atau orang lain. Perubahan memang tidak selalu mudah dihadapi, tetapi bukan berarti kita tidak memiliki kesempatan untuk berkembang.

Bagi saya, menghadapi era AI bukan tentang berlomba menjadi lebih cepat daripada mesin. Kita perlu belajar memanfaatkan teknologi tanpa kehilangan kemampuan untuk berpikir, memahami, dan mengambil keputusan secara mandiri. AI dapat membantu menyelesaikan banyak hal, tetapi manusia tetap perlu menentukan tujuan dan mempertimbangkan bagaimana teknologi tersebut digunakan.

Pada akhirnya, masa depan bukan hanya milik mereka yang paling cepat menguasai teknologi, melainkan juga mereka yang mau terus belajar dan mampu menggunakannya dengan bijaksana. Teknologi akan terus berubah, tetapi kemampuan untuk beradaptasi dan tetap berpikir kritis akan selalu menjadi bekal penting dalam menghadapi perubahan tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *