Dosen dan mahasiswa Prodi Teknik Mesin Universitas Pamulang pada tanggal 18 Oktober 2026 telah meangadakan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) berupa pelatihan Implementasi Teknologi Pengarangan Sederhana Sampah Pekarangan di Lingkungan Rumah Yatim dan Pesantren Ruhama Jl. Betet 1, Kampung Kebon Kopi, Desa Pengasinan Rt 01 Rw 06, Kecamatan Gunung Sindur, Kabupaten Bogor, sebagai upaya untuk membuka wawasan dalam pemanfaatan barang yang dianggap tidak bermanfaat dan harus dimusnahkan menjadi barang yang memiliki nilai ekonomi
PkM yang diadakan di Rumah Yatim dan Pesantren Ruhama diikuti oleh 20 santri dan mahasiswa Unpam dengan dosen pembimbing ketua Ir. Ahsonul Anam, MT. dan dosen anggota Dr. Eng. Gadang Priyotomo, ST., Msi. dari Prodi Teknik Mesin.
Dalam sambutannya, dosen Pembimbing PkM Ir. Ahsonul Anam, MT, menyampaikan terima kasih kepada pihak Rumah Yatim dan Pesantren Ruhama yang telah memfasilitasi tempat dan waktu untuk pelaksanaan kegiatan. “Terima kasih atas fasilitasi tempat dan waktu untuk penyelenggaraan PKM ini. Semoga kerja sama kita selalu terjalin dan membawa manfaat kepada kedua belah pihak,” ujar Ahsonul Anam.
Menurut Ahsonul Anam, berdasarkan hasil observasi dan diskusi dengan mitra PkM, salah satu masalah yang dihadapi oleh mitra PkM adalah sampah yang belum dimanfaatkan, teronggok di pekarangan atau bahkan memenuhi selokan. Sampah tetap dianggap sebagai barang yang tidak ada manfaatnya sama sekali sehingga harus dibuang atau dimusnahkan.
Rumah Yatim dan Pesantren Ruhama menempati lahan seluas sekitar 5.000 m2, yang terdiri atas bangunan dan ruang terbuka hijau (RTH). Daun dan ranting yang berguguran di RTH sering dibersihkan, namun sampah dedaunan dibuang/dikembalikan ke lahan tanaman. Hal ini mengakibatkan limbah dedaunan berserakan, teronggok atau bahkan jatuh ke saluran pembuangan air (drainase). Limbah dedaunan yang dikembalikan ke lahan memang bagus untuk tanaman bila sudah terurai menjadi pupuk organik/alami. Namun secara alami hal ini membutuhkan waktu yang lama. Hal yang sering kita amati, limbah dedaunan yang berserakan di lahan ataupun yang teronggok, di musim hujan menyebabkan bau busuk yang mengganggu kenyamanan. Bahkan bila terjatuh ke saluran pembuangan air (drainase) bisa menyebabkan terhambatnya aliran air pembuangan, yang menjadikan sarang penyakit dan bau busuk yang menyengat serta berpotensi sebagai tempat sarang penyakit. Limbah dedaunan bila dibakar langsung di sekitar lahan RTH juga akan sangat mengganggu kenyamanan, di samping itu tanah bekas tapak pembakaran akan menjadi keramik sehingga menjadikannya tidak subur.
Onggokan sampah dedaunan yang dibiarkan akan meninmbulkan masalah estetis, sosial budaya, ekonomi dan penyakit. Pemanfaatan sampah yang kurang tepat juga terkadang menimbulkan masalah lingkungan. Sampah dedaunan dan ranting, bila dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif, misalnya briket, di samping bisa mengatasi masalah-masalah tersebut, juga bisa meningkatkan nilai ekonomi tanpa menimbulkan masalah lainnya. Abu sisa pembakaran bibriket bisa dikembalikan ke lahan sebagai pupuk organik
Hal ini perlu segera diatasi dengan diadakannya kegiatan edukasi kepada para siswa dan guru untuk meningkatkan pengetahuan mengenai pembuatan arang sampah dedaunan menggunakan alat pengarang sederhana, yaitu menggunakan kaleng bekas cat ukuran 25 liter yang mudah didapatkan dan murah, secara teoritis dan melalui demo menggunakan media video. Setelah diadakannya kegiatan PkM ini, diharapkan peserta kegiatan PkM, siswa dan satri Rumah Yatim dan Pesantren Ruhama dapat mempraktekkannya secara mandiri.
Selain penyampaian materi, tim juga melaksanakan pre-test dan post-test untuk mengetahui tingkat pemahaman peserta sebelum dan setelah mengikuti kegiatan. Evaluasi tersebut menjadi bagian dari upaya mengukur pemahaman santri terhadap materi yang disampaikan.
Selanjutnya Dr. Eng. Gadang Priyotomo, ST., MSi. menjelaskan, cara membuat briket dari arang sampah pekarangan dengan alat yang juga sangat sederhana. Pada prinsipnya, sampah yang sudah diarangkan, dicampur dengan “lem” dari tepung kanji yang dilarutkan dalam air dan dimasak, diaduk secara merata, kemudian dicetak dengan bentu seperti pellet menggunakan pipa PVC bekas sesuai dengan ukuran yang diinginkan atau berbentuk kubus atau bentuk lain yang diinginkan.
Jadi tujuan umum dari kegiatan ini adalah membantu para santri Rumah Yatim dan Pesantren Ruhama dalam menguasai cara pembuatan alat pengarangan sampah pekarangan secara sederhana dan murah, serta mampu mengolah sampah menjadi produk yang berguna dan memiliki nilai ekonomi, serta mengolahnya menjadi briket yrng bias dimanfaatkan untuk membakar sate, memasak tanpa asap dan lainnya .
Siswa Rumah Yatim dan Pesantren Ruhama sangat antusias saat mengikuti kegitan PkM dosen dan mahasiswa Prodi Teknik Mesin Universitas Pamulang. Pada akhir acara, alat pengarangan sederhana yang dibuat dari kaleng cat bekas berukuran 25 liter diserahkan kepada pihak Ruhama sebagai media pembelajaran dan praktek dalam upaya meingkatkan nilai tambah sampah yang dianggap tidak bernilai dan bermasalah menjadi bahan bakar briket yang mempunyai nilai ekonomi dan estetis
