Penulis:Muhammad Rifai
Instansi:Universitas Pamulang

Tangerang – Kendaraan otonom, juga dikenal sebagai self-driving vehicle atau autonomous vehicle, adalah kendaraan yang dirancang untuk dapat beroperasi tanpa kebutuhan pengemudi manusia yang aktif di dalamnya. Kendaraan otonom menggunakan berbagai teknologi seperti sensor, perangkat lunak, dan sistem pengendalian yang kompleks untuk mengenali lingkungan sekitarnya, mengambil keputusan, dan mengendalikan gerakan kendaraan.

Apa itu kendaraan otonom?

Kendaraan otonom adalah kendaraan yang dapat beroperasi secara mandiri tanpa keterlibatan manusia dalam mengemudi. Mereka menggunakan teknologi sensor, pemrosesan data, dan kecerdasan buatan untuk mengenali dan merespons lingkungan sekitar mereka, mengambil keputusan, dan mengendalikan pergerakan kendaraan.

Lalu apa saja jenis kendaraan otonom tersebut?

Kendaraan otonom dapat dibagi menjadi beberapa tingkat atau tingkatan, yang menggambarkan tingkat kemandirian dan interaksi manusia dalam pengoperasiannya. Salah satu sistem klasifikasi yang umum digunakan adalah yang dikembangkan oleh Society of Automotive Engineers (SAE) yang menggolongkan kendaraan otonom ke dalam enam tingkat:

1. Tingkat 0: Tidak ada otomatisasi – Kendaraan dikendalikan sepenuhnya oleh pengemudi manusia tanpa adanya bantuan dari sistem otomatis.

2. Tingkat 1: Bantuan pengemudi – Kendaraan dilengkapi dengan fitur-fitur bantuan pengemudi yang dapat membantu dalam beberapa aspek pengendalian, seperti pengereman otomatis atau kontrol kecepatan krusial.

3. Tingkat 2: Otomasi sebagian – Kendaraan dapat mengendalikan akselerasi, pengereman, dan kemudi dalam kondisi tertentu. Namun, pengemudi harus tetap siap mengambil alih kendali jika diperlukan dan bertanggung jawab atas keselamatan kendaraan.

4. Tingkat 3: Otomasi terbatas – Kendaraan dapat mengendalikan sebagian besar aspek mengemudi dalam kondisi tertentu, seperti di jalan tol atau dalam kecepatan yang lebih rendah. Namun, pengemudi masih harus siap mengambil alih kendali dengan pemberitahuan yang cukup saat sistem membutuhkannya.

5. Tingkat 4: Otomasi tinggi – Kendaraan dapat beroperasi secara mandiri dalam kondisi tertentu dan tidak memerlukan pengemudi manusia. Namun, keterbatasan lingkungan tertentu masih dapat memerlukan campur tangan manusia dalam situasi yang kompleks atau darurat.

6. Tingkat 5: Otomasi penuh – Kendaraan sepenuhnya mandiri dan tidak memerlukan campur tangan manusia dalam situasi atau lingkungan apapun. Tidak ada pengemudi manusia yang diperlukan dan pengguna kendaraan dapat menjadi penumpang yang pasif.

Saat ini, sebagian besar kendaraan otonom yang ada di jalan masih beroperasi pada tingkat 2 atau 3. Kendaraan otonom pada tingkat 4 dan 5 masih dalam tahap pengembangan yang lebih lanjut dan pengujian di berbagai lingkungan dan kondisi.

Contoh kendaraan otonom yang mungkin kamu pernah lihat  di media sosial atau kamu pernah mendapat pesan teks seperti ini  :

Mengenal Level pada Teknologi Mobil Otonom yang Canggih I Carro.id
Ilustrasi contoh kendaraan otonom. mediasembilan.com

Ancaman seperti apa jika menggunakan kendaraan otonom?

Jika kendaraan otonom mengalami ancaman atau kerentanan keamanan, beberapa potensi konsekuensi yang dapat timbul adalah sebagai berikut:

1. Kecelakaan atau kegagalan sistem: Jika kendaraan otonom mengalami serangan atau gangguan yang mengganggu sistem pengendalian atau sensor, dapat terjadi kegagalan sistem yang menyebabkan kendaraan tidak berfungsi dengan benar. Ini dapat mengakibatkan kecelakaan atau situasi berbahaya di jalan raya.

2. Pengambilalihan kendali: Ancaman terbesar adalah jika seseorang berhasil mengambil alih kendali kendaraan otonom secara tidak sah. Penyerang yang mendapatkan akses ke sistem kendaraan otonom dapat mengubah jalur, kecepatan, atau perilaku kendaraan, dengan potensi membahayakan pengemudi, penumpang, dan pengguna jalan lainnya.

3. Manipulasi sensor: Jika sensor kendaraan otonom diretas atau dimanipulasi, data yang diterima oleh kendaraan dapat menjadi tidak akurat atau salah. Ini dapat mengakibatkan pengambilan keputusan yang tidak tepat oleh sistem, seperti mengidentifikasi objek atau kondisi jalan dengan cara yang salah.

4. Serangan jaringan: Kendaraan otonom yang terhubung ke jaringan berisiko menghadapi serangan jaringan. Jika jaringan diretas, penyerang dapat mengakses kendaraan secara tidak sah, mencuri data sensitif, atau mengganggu komunikasi yang penting antara kendaraan otonom dan infrastruktur lainnya.

5. Pencurian data dan privasi: Kendaraan otonom menghasilkan dan mengumpulkan banyak data tentang pengguna, termasuk informasi pribadi dan lokasi. Ancaman terhadap keamanan data dapat mengakibatkan pencurian data pribadi atau pelanggaran privasi.

6. Serangan fisik terhadap penumpang atau kendaraan: Jika kendaraan otonom tidak memiliki sistem keamanan yang memadai, penyerang dapat menggunakan serangan fisik langsung terhadap penumpang atau kendaraan itu sendiri.

Penting untuk diingat bahwa sementara ancaman terhadap kendaraan otonom ada, teknologi ini terus berkembang dengan langkah-langkah keamanan yang lebih baik. Produsen kendaraan otonom dan pengembang sistem terus berupaya meningkatkan keamanan dan melindungi kendaraan otonom dari ancaman potensial.

By Admin

Open chat
1
Scan the code
Media Sembilan
Halo kakak 👋
Kalau Kakak mau upload berita atau artikel, yuk siapkan dulu naskah dan fotonya. Kalau sudah siap, Kakak bisa langsung kirim ke kami. Atau, kalau lebih mudah, Kakak bisa langsung chat mimin aja. Kami siap bantu! 😊