Penulis:Dewi Sri Hayati
Instansi:Universitas Pamulang

Tangerang – Dalam kompleksitas kehidupan sosial dan budaya, seringkali kita dihadapkan pada fenomena menarik yang dikenal sebagai diglosia. Diglosia adalah fenomena yang sering ditemukan dalam banyak masyarakat di seluruh dunia. Ini mengacu pada penggunaan dua atau lebih varietas bahasa dalam satu komunitas, di mana satu varietas bahasa digunakan dalam situasi formal atau resmi, sedangkan varietas lainnya digunakan dalam situasi informal atau sehari-hari. Diglosia adalah sebuah fenomena yang menarik ketika diterapkan pada masyarakat Jawa, karena masyarakat Jawa memiliki tradisi bahasa yang kaya dan unik. Dalam artikel ini, kita akan mengulas fenomena diglosia dalam masyarakat Jawa, mencakup varietas bahasa dan faktor sosial yang memengaruhinya.

Varietas Bahasa dalam Masyarakat Jawa

1. Bahasa Jawa Krama (Jawa Halus):

Bahasa Jawa Krama adalah varietas bahasa Jawa yang digunakan dalam situasi formal dan resmi. Ini sering digunakan dalam lingkungan seperti upacara adat, pertemuan penting, dan dalam bentuk sastra klasik Jawa. Bahasa Jawa Krama memiliki kosakata yang lebih kaya dan rumit, serta tata bahasa yang lebih formal. Pemakaian Bahasa Jawa Krama juga mencerminkan hierarki sosial dan adat yang kuat dalam budaya Jawa.

 2. Bahasa Jawa Ngoko (Jawa Kasar):

Bahasa Jawa Ngoko, di sisi lain, adalah varietas bahasa Jawa yang digunakan dalam situasi sehari-hari dan informal. Ini adalah bentuk bahasa yang digunakan dalam percakapan sehari-hari di antara masyarakat Jawa. Bahasa Jawa Ngoko lebih sederhana dan santai daripada Bahasa Jawa Krama, dan sering kali lebih dekat dengan bahasa Jawa asli yang digunakan oleh masyarakat Jawa dalam kehidupan sehari-hari.

3. Bahasa Indonesia:

Di Indonesia, Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi yang digunakan dalam berbagai konteks resmi, seperti pemerintahan, pendidikan, dan media massa. Bahasa Indonesia adalah bahasa nasional yang digunakan di seluruh Indonesia, termasuk di Jawa. Oleh karena itu, masyarakat Jawa juga berbicara dalam Bahasa Indonesia, terutama dalam situasi resmi.

Faktor-Faktor Sosial yang Mempengaruhi Diglosia dalam Masyarakat Jawa:

 1. Kebudayaan Jawa:

Budaya Jawa sangat mempengaruhi fenomena diglosia dalam masyarakat Jawa. Konsep sopan santun dan hierarki sosial yang kuat dalam budaya Jawa tercermin dalam pemakaian Bahasa Jawa Krama. Bahasa ini digunakan untuk menghormati orang yang lebih tua, dalam situasi formal, atau untuk menunjukkan penghargaan kepada sesama.

2. Pendidikan dan Media Massa:

Pendidikan formal di Indonesia menggunakan Bahasa Indonesia sebagai medium pengajaran. Ini berarti bahwa pendidikan formal di masyarakat Jawa menggunakan Bahasa Indonesia. Media massa juga umumnya menggunakan Bahasa Indonesia, yang mempengaruhi kemampuan masyarakat Jawa untuk berkomunikasi dalam Bahasa Indonesia dalam konteks resmi.

3. Perubahan Sosial:

Dengan perkembangan globalisasi dan modernisasi, penggunaan Bahasa Indonesia semakin meluas dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Jawa. Anak-anak muda seringkali lebih terampil dalam Bahasa Indonesia daripada Bahasa Jawa Krama. Hal ini mencerminkan perubahan sosial dan budaya yang berlangsung di masyarakat Jawa.

Kesimpulan

Fenomena diglosia dalam masyarakat Jawa adalah hasil dari sejarah, budaya, dan faktor sosial yang kompleks. Penggunaan Bahasa Jawa Krama, Bahasa Jawa Ngoko, dan Bahasa Indonesia mencerminkan struktur sosial yang kuat dan pengaruh budaya dalam masyarakat Jawa. Namun, dengan perubahan sosial yang terus berlangsung, penggunaan Bahasa Indonesia semakin meluas, sehingga membawa tantangan dan peluang baru dalam dinamika bahasa di masyarakat Jawa. Dengan pemahaman yang lebih dalam tentang fenomena diglosia ini, kita dapat melihat bagaimana bahasa mencerminkan dan beradaptasi dengan perubahan dalam masyarakat.

By Admin

Open chat
1
Scan the code
Media Sembilan
Halo kakak 👋
Jika ingin upload berita / artikel silahkan kakak siapkan seperti naskahnya jika sudah ada, beserta fotonya ya kak. Atau kaka bisa langsung chat mimin aja ya kak