
Penulis: Parid rehan paiza
Kapan ruang kelas berubah jadi tempat di mana guru bicara dan siswa secara fisik hadir, tapi pikirannya entah di mana? Bukan karena mereka malas. Tapi karena di luar sana, di dalam layar yang mereka sembunyikan di bawah meja, ada dunia yang terasa jauh lebih nyata dari apa yang dijelaskan di papan tulis.
Dan dunia itu namanya TikTok
Survei We Are Social dan Hootsuite 2024 mencatat Indonesia masuk daftar negara dengan pengguna TikTok terbanyak di dunia. Rata-rata pemakaian lebih dari dua jam sehari. Sebagian besar penggunanya berusia 12 sampai 24 tahun persis usia sekolah. Angka ini sebenarnya bukan kejutan, tapi tetap saja bikin diam sebentar kalo di pikir-pikir.
Ketika seorang remaja lebih percaya penjelasan kreator konten soal cara kerja vaksin dibanding gurunya yang sudah mengajar dua dekade. Itu bukan masalah teknologi, tetapi masalah kepercayaan. Kalau kepercayaan sudah bergeser sedalam itu, kita perlu jujur bertanya ke diri sendiri: apa yang salah?
Algoritma Tidak Peduli Kamu Tumbuh atau Tidak
TikTok punya satu misi: yaitu bikin kamu tidak pernah berhenti. Sesederhana itu. Algoritma FYP memetakan setiap detik tontonan, setiap video diputar ulang, setiap konten yang membuat jempol mendadak diam. Pelan-pelan ia mengenal kamu lebih dalam dari yang kamu sadari dan ia akan terus menyodorkan apa yang kamu nikmati, dan bukan apa yang kamu perlukan. Masalahnya, “nikmat” dan “benar” itu dua hal yang tidak pernah otomatis sama.
Seorang siswa yang sekali tersangkut video teori bumi datar akan terus diarahkan ke konten serupa sampai gagasan itu terasa seperti kenyataan. Padahal yang terjadi bukan pembuktian, tetapi itu pengulangan. Inilah yang paling berbahaya: seseorang merasa sudah paham, padahal hanya mendengar satu versi yang diputar berulang di dalam ruang yang telah ia bangun sendiri tanpa pernah menyadarinya.
Di titik inilah literasi digital seharusnya bicara. Bukan soal biasa pakai HP atau mahir bikin konten. Tetapi soal kemampuan untuk berhenti sebentar dan bertanya: ini datang dari mana? Siapa yang menyebarkan, untuk kepentingan apa? Ada perspektif lain yang belum saya sentuh? Pertanyaan-pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi itulah garis yang memisahkan orang yang berpikir dari orang yang sekadar ikut arus.
Guru Bukan Musuh, Tetapi juga Bukan Solusi Tunggal
Kalau ada yang menunjuk guru sebagai biang kerok semua ini, rasanya kurang tepat. Guru kita sedang berebut perhatian dengan platform yang dirancang oleh ratusan insinyur bergaji besar, yang tolok ukur satu-satuya adalah seberapa lama pengguna tidak bisa angkat muka dari layar. Sementara guru datang dengan buku paket, papan tulis, dan 40 kepala yang masing-masing sudah punya dunianya sendiri. Ini bukan persaingan yang seimbang, dan diam atas itu bukan sikap netral, tetapi itu pembiaran.
Sekolah juga tidak bisa terus berlindung di balik jalan paling pendek: larang ponsel, beres. Itu bukan jawaban, itu pelarian. Lebih mendesaknya lagi adalah pergeseran cara pikir, bahwa dunia digital bukan ancaman yang perlu dijauhkan, melainkan sesuatu yang perlu di ajarkan cara navigasinya. Negara Finlandia dan Singapura sudah lama bergerak ke sana, dan jejaknya pun sudah bisa dibaca.
Di Indonesia pun ada guru-guru yang tidak menunggu perintah. Mereka bikin konten TikTok, membungkus materi dalam format yang tidak bikin ngantuk, bahkan mengajak siswa membedah video hoax langsung di kelas. Semua itu jalan sendiri, tanpa arahan, tanpa tambahan apa pun, kadang malah jadi bahan omongan di ruang guru. Padahal merekalah yang seharusnya jadi patokan, bukan kisah langka yang dikutip sekali lalu dilupakan.
Semua Terlibat, Semua Bertanggung Jawab
Pemerintah perlu bergerak lebih jauh tetapi bukan hanya dari sekadar memblokir. Literasi digital harus masuk kurikulum dengan sungguh-sungguh, bukan hanya disisipkan sebagai mata pelajaran pelengkap yang hilang begitu ujian semester selesai, tetapi benar-benar diajarkan, di ukur, diminta pertanggung jawabnya. Kemendikbud dan Kominfo perlu satu meja, bukan saling oper tanggung jawab.
Platform seperti TikTok juga tidak bisa terus berlindung dibalik klaim “kami hanya menyediakan ruang”. Fitur pengecekan fakta, label sumber kredibel, pembatasan konten yang menyesatkan, semua itu bukan hal yang mustahil kalau memang ada niat. Dan niat itu seharusnya tidak perlu menunggu regulasi mengetuk pintu dulu.
Orang tua juga tidak lepas dari ini. Menyerahkan HP ke tangan sang anak lalu menghilang bukan bentuk kepercayaan, itu pengabaian. Seharusnya orang tua duduk bersama, tanya apa yang mereka tonton, biasakan mereka untuk tidak langsung menelan informasi begitu saja. Itu bukan kontrol berlebihan, tetapi itu namanya mendampingi.
Generasi Z sendiri bukan generasi yang perlu di kasihani karena di anggap rapuh. Justru sebaliknya, mereka cepat menangkap, lentur, dan penuh akal. Yang belum mereka miliki bukan kecerdasan, tetapi yang belum ada adalah ruang yang benar-benar mengajarkan cara membedakan mana yang memang benar dan mana yang hanya terasa benar.
Penutup
Karena pada akhirnya, ini bukan soal berapa jam anak-anak menatap layar. Tetapi ini soal apa yang mereka bawa pulang setelah layar itu mati. Kalau yang tertinggal hanya kepercayaan buta pada suara paling keras di FYP, maka kita sedang membesarkan generasi yang pintar mengonsumsi, tetapi lupa cara berpikir. Bangsa yang lupa cara berpikir, tinggal menunggu waktu yang dikendalikan.