MENCEGAH BULLYING MELALUI PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT: PENGALAMAN SAYA SEBAGAI PEMATERI PKM DI SMPN 2 TANGERANG SELATAN

Pada tanggal 21 Oktober 2025, saya berkesempatan menjadi ketua tim sekaligus pemateri dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) dengan tema Upaya Pencegahan Bullying pada Remaja di Indonesia di SMP Negeri 2 Tangerang Selatan. Kegiatan dilaksanakan pukul 10.00–12.00 WIB dan diikuti oleh anggota OSIS kelas 7, 8, dan 9  SMP dan Tim PKM kami terdiri dari empat orang, dan saya dipercaya sebagai ketua.

Bagi saya, kegiatan ini bukan hanya agenda akademik, tetapi wujud tanggung jawab sosial: menghadirkan ilmu langsung ke masyarakat, khususnya ke lingkungan sekolah yang menjadi ruang tumbuh remaja.

  1. Bullying sebagai masalah nyata di sekolah

Dalam materi PKM yang kami susun, bullying dipahami bukan hanya tindakan fisik, tetapi juga:

  1. verbal (ejekan, hinaan)
    1. relasional (pengucilan, pertemanan yang manipulatif)
    1. siberbullying (komentar jahat di media sosial, penyebaran foto tanpa izin)

Saat menjelaskan hal ini, saya melihat para peserta mengangguk dan saling menoleh. Saya merasa mereka tidak asing dengan fenomena ini—baik sebagai saksi, korban, maupun pelaku tanpa sadar. Di sinilah pengabdian kepada masyarakat menemukan maknanya: menghadirkan kesadaran bahwa bullying bukan bercanda, tetapi bentuk kekerasan

  • Suasana kegiatan dan interaksi peserta

Sebagai anggota OSIS, para peserta memiliki semangat kepemimpinan yang kuat. Diskusi menjadi sangat hidup ketika kami mengangkat pertanyaan sederhana:

  1. “Apa bedanya bercanda dengan menghina?”
    1. “Mengapa korban sering memilih diam?”
    1. “Apa yang bisa dilakukan teman sebaya?”

Banyak yang berbagi pengalaman tentang teman yang menjadi pendiam setelah sering diejek, atau enggan datang ke sekolah karena takut. Momen itu menyentuh saya—ternyata di balik aktivitas sekolah yang terlihat normal, ada cerita yang tidak selalu terdengar.

  • Peran saya sebagai ketua tim PKM

Sebagai ketua, tugas saya tidak berhenti pada menyampaikan materi. Saya mengoordinasikan:

  1. pembagian peran empat anggota tim
    1. alur kegiatan selama dua jam
    1. interaksi diskusi agar inklusif
    1. evaluasi setelah kegiatan selesai

Saya juga berusaha membuat materi tidak kaku, karena pengabdian kepada masyarakat bukanlah kuliah satu arah. Kami menggunakan pendekatan dialog, permainan peran ringan, dan studi kasus. Hasilnya, peserta lebih berani bertanya dan mengemukakan pendapat.

  • Pembelajaran penting dari kegiatan PKM

Dari pengalaman ini, saya menyimpulkan beberapa hal:

1. Bullying sering terjadi tanpa disadari

   Banyak remaja menganggapnya bagian dari candaan, padahal melukai psikologis.

2. Korban membutuhkan dukungan teman

   Kehadiran satu teman yang berani membela dapat mengubah banyak hal.

3. OSIS memiliki posisi strategis

   Mereka panutan bagi siswa lain dan bisa membangun budaya sekolah yang positif.

4. Pengabdian masyarakat memberi dampak nyata

   Edukasi langsung ke sekolah terasa lebih hidup dibanding sekadar teori di kelas.

  • Dampak yang terasa setelah kegiatan

Setelah acara selesai, beberapa siswa mendekati saya. Ada yang berkata:

  1. “Kak, saya baru sadar kalau body shaming itu bullying.”
    1. “Mulai sekarang saya ingin lebih peka kalau ada teman yang dikucilkan.”

Kalimat-kalimat itu sederhana, namun bagi saya sangat berarti. Saya merasa apa yang kami lakukan benar-benar sampai pada sasaran.

  • Harapan saya ke depan

Melalui kegiatan PKM ini, saya berharap:

  1. sekolah semakin berani menyatakan zero tolerance terhadap bullying
    1. OSIS menjadi pelopor budaya saling menghormati
    1. guru, orang tua, dan siswa terlibat bersama dalam pencegahan
    1. pengabdian masyarakat seperti ini terus berlanjut di sekolah lain

Menjadi pemateri PKM di SMPN 2 Tangerang Selatan adalah pengalaman berharga. Kegiatan tersebut mengajarkan bahwa ilmu tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk masyarakat. Dan saya semakin yakin: remaja Indonesia berhak tumbuh di lingkungan yang aman, inklusif, dan bebas bullying.

Dona Purnama, Universitas Pamulang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *